Liverpool Kembali Ke Liga Champions Eropa Musim Depan

Liverpool Kembali Ke Liga Champions Eropa Musim Depan

Liverpool akan kembali berlaga di LIga Champions Eropa musim depan setelah menyelesaikan musim ini di peringkat 4. Kemenangan 3 – 0 atas Middlesbrough di Anfield sukses membawa tim asuhan Jurgen Klopp kembali berlaga di kompetisi antar klub paling elit di benua Eropa. Keberhasilan tersebut tentu menjadi berita bagus setelah terpuruknya prestasi The Reds dalam beberapa musim terakhir. Keberhasilan Liverpool lolos ke LIga Champions Eropa kali ini merupakan yang kedua kali dalam 8 musim terakhir. Meskipun begitu; Liverpool masih harus menjalani laga playoff sebelum Liga Champions Eropa memasuki fase grup. Kepercayaan diri tinggi sepertinya kini dimiliki Liverpool meski rival sekota mereka pernah mengalami pengalaman buruk karena tersingkir dari Liga Champions Eropa di babak playoff musim 2005/06.

 

Kesuksesan Liverpool lolos ke Liga Champions Eropa musim depan menjadi sebuah refleksi bagi penurunan prestasi Arsenal yang untuk pertama kalinya di abad ini gagal lolos ke kompetisi tersebut. Liverpool merupakan salah satu klub Inggris paling berprestasi di ajang tersebut mengingat mereka telah mencatat 5 gelar juara Liga Champions Eropa. Masa suram Liverpool di kompetisi Eropa terjadi pada masa kepemimpinan Brendan Rodgers. Liverpool gagal lolos dari fase grup di musim 2014/15 setelah sang manajer tidak memainkan Steven Gerrard di laga tandang melawan Real Madrid. Sebelumnya Liverpool sempat mencapai partai final di tahun 2008; namun dikalahkan Chelsea di partai final.

 

Kini bersama Jurgen Klopp yang sempat membawa Liverpool ke partai final Liga Eropa musim lalu dan juga pernah membawa Borussia Dortmund ke partai final Liga Champions Eropa musim 2012/13; suporter The Reds pantas merasa optimis tim kesayangan mereka kembali mampu berprestasi di kompetisi elit Eropa. Memperkuat skuad sepertinya menjadi prioritas mengingat Liverpool akan menghadapi musim yang pada. Pemain utama Liverpool di musim ini terbukti mampu memberikan permainan menarik dan kemampuan mengalahkan tim – tim elit. Hanya saja cedera pada 1 atau 2 pemain ternyata membuat Liverpool gagal memperlihatkan permainan terbaik mereka. Keberhasilan mencapai peringkat 4 besar tanpa Jordan Henderson yang cedera sejak Februari dan Sadio Mane sejak awal April sedikit banyak menunjukkan perkembangan positif dari skuad Liverpool.

Juventus Dikejutkan Oleh Permainan Cepat Dan Determinasi Tinggi Atalanta

Juventus Dikejutkan Oleh Permainan Cepat Dan Determinasi Tinggi Atalanta

Konsentrasi Juventus menjelang partai semifinal Liga Champions Eropa melawan AS Monaco sepertinya mempengaruhi penampilan Gonzalo Higuain dan kawan – kawan di ajang Serie A. Hasil imbang 2 – 2 saat melawan Atalanta menjadi bukti dari situasi tersebut. Semangat juang tinggi dan permainan dinamis yang ditunjukkan oleh para pemain Atalanta memberi masalah serius bagi Juventus. Sebuah gol di menit akhir pertandingan menggagalkan tambahan 3 poin yang sebenarnya nyaris diperoleh tim asuhan Massimiliano Allegri. Juventus tampil kurang baik pada babak pertama dengan penampilan yang minim determinasi sehingga jarang menciptakan peluang. Bahkan lini tengah Juventus terlihat minim konsentrasi sehingga sering kehilangan bola dan memberi peluang bagi lawang untuk mengancam gawang Gianluigi Buffon.

 

Permainan Atalanta yang cepat dengan intensitas tinggi memberi kesulitan serius bagi lini tengah dan lini belakang Juventus. Sebuah gol dari Andrea Conti di penghujung babak pertama memberi tekanan serius bagi Juventus yang dipastikan tidak ingin kehilangan poin di sisa pertandingan Serie A musim ini. Tertinggal 1 gol membuat Juventus meningkatkan intensitas permainan sejak awal babak kedua. Para pemain Juventus menaikkan tempo permainan dan terus menekan para pemain Atalanta yang turun bertahan guna mempertahankan keunggulan 1 gol. Paulo Dybala tampil lebih percaya diri dan menunjukkan kualitas individu yang mampu merepotkan pertahanan lawan. Tekanan tersebut berbuah manis setelah sebuah kesalahan yang dilakukan lini belakang Atalanta berbuah gol bunuh diri dari Leonardo Spinazzola yang menyamakan skor menjadi 1 – 1.

 

Situasi berbalik setelah Juventus unggul berkat gol yang dicetak oleh Dani Alves. Optimisme mendulang tambahan 3 poin sepertinya mulai muncul; namun serangan cepat dan determinasi tinggi para pemain Atalanta terbukti mampu menyulitkan lini belakang Juventus. Sebuah bukti bahwa pemain cepat yang berani berduel dapat menembus lini belakang Juventus yang dikenal sangat tangguh. Remo Freuler sukses menyamakan kedudukan menjadi 2 – 2 saat pertandingan memasuki menit 89 dan akhirnya menggagalkan peluang Juventus untuk menambah 3 poin. Kini Juventus masih kokoh di puncak klasemen Liga Serie A dengan perolehan nilai 84; berselisih 9 poin dari AS Roma di peringkat kedua dan 10 poin dari Napoli di peringkat ketiga

Ryan Giggs Sempat Mau Bergabung dengan Liverpool dan Manchester City

Ryan Giggs Sempat Mau Bergabung Dengan Liverpool dan Manchester City

Berbicara mengenai pemain sayap paling hebat di dunia, tidak tepat jika tidak menyinggung nama Ryan Giggs. Siapa yang tidak kenal dengan kehebatan pemain sayap Wales ini. Namanya begitu tenar dan populer bersama klub raksasa Inggris, Manchester United. Winger brilian ini hampir sebagian besar menghabiskan karirnya di klub kota Manchester ini, banyak torehan manis yang diukirnya bersama Red Devils.

 

Bagi kubu Manchester United Ryan Giggs tak ubahnya sebuah saksi kegemilangan klub besar ini, torehan prestasi sudah banyak diukir Giggs untuk United. Rasanya tak ada sosok pemain yang bisa menandingi loyalitas pemain kaki kidal ini. Giggs tercatat hampir 29 tahun membela panji Setan merah. Sehingga sosok Giggs selalu menjadi seorang legenda bagi kubu Old Traford.

 

Baca Juga : Catatan 8 Gelar Dalam 2 Tahun Dari Xavi, Iniesta dan Puyol

 

Tidak hanya sebagai pemain andalan di lapangan saja. Sosok Ryan Giggs menjelma menjadi sosok panutan bagi rekan-rekan setimnya baik di lapangan maupun ketika berada di luar lapangan. Terlebih Giggs yang pensiun di usia 40-an tahun ini selalu menampilkan permainan ciamik di lapangan dari agen sbobet. Selain itu sikap dan perilakunya di  luar lapangan juga sangat baik dan menjadi contoh bagi pemain sepak bola.

 

Ryan Giggs tercatat resmi berbaju setan merah pada tahun 1990 di bawah nahkoda Sir Alex Fergusson. Ada cerita yang belum banyak diketahui orang terkait bergabungnya Giggs dengan Kubu Old Traford ini. Menurut manajer yang  membina Giggs ketika masih di usia junior mengatakan jika sebenarnya pemain andalannya ini sempat akan dibeli oleh Liverpool dan juga  Mancheter City pada awal karirnya.

 

Akan tetapi wacana itu nampaknya tidak mendapat lampu hijau dari kubu Liverpool maupun dari Manchester City. Alasannya mengapa kedua klub tersebut urung memboyong Ryan Giggs lantaran pemain sayap ini dianggap kurang mumpuni jika bergabung dalam skuad kedua klub ini. Meskipun sang manajer berusaha dengan keras untuk memboyong Giggs ke City, namun sebuah langkah cerdas dilakukan oleh Fergie.

 

Seorang Alex Ferguson tentunya memiliki pandangan khusus terhadap bakat dan kemampuan pemuda 14 tahun ini. Terang saja, sebuah langkah cepat dilakukan Fergie untuk mendapatkan bidikannya. Waktu ketika Giggs merayakan momen ulang tahunnya sir Alex langsung saja menyodorkan kontrak untuk Ryan Giggs bersama The Red Devils. Sontak Giggs mengamini permintaan ini dan akhirnya di resmi berbaju Man. United.

 

Keputusan cepat dari Fergie ini akhirnya berbuah manis. Ryan Giggs benar-benar menjadi tulang punggung bagi United di beberapa periode kejayaannya. Hingga akhirnya torehan manis diraih oleh pemain Wales ini. Hingga akhirnya dia mengakhiri karir manisnya di Old Traford sebagai seorang legenda hidup. Bahkan, sebelum United diambil alih oleh Mourinho, Giggs dipercaya sebagai nahkoda tim ini.

CatatAN 8 Gelar dalam 2 Tahun dari Xavi, Iniesta, dan Puyol

Catatan 8 Gelar Dalam 2 Tahun Dari Xavi, Iniesta dan Puyol

reneefrench.com – Jika kita mencoba mencari tahu siapa pemain sepak bola yang paling banyak mengoleksi tropy sudah pasti kita akan tertuju pada 3 sosok yang menjadi tulang punggung Spanyol dan juga Barcelona dari indosbobet88.org. Trio pemain itu adalah Xavi, Iniesta dan Puyol. Tiga nama tersebut rasanya cukup pantas jika disebut sebagai pemain luar biasa dengan sekian banyak gelar.

 

Ketiga pemain tersebut dikenal sebagai pemain top dunia sekaligus generasi emas sepak bola Spanyol. sudah banyak torehan prestasi yang mereka sabet, mulai dari gelar perorangan, klub maupun untuk timnas Spanyol. Terlebih torehan Xavi, Iniesta dan Puyol ini sangat spesial dan yang paling hebat adalah torehan 8 gelar hanya dalam kurun waktu selama 2 tahun saja.

 

Masih teringat jelas ketika gelaran Piala Eropa di tahun 2008 silam, timnas matador Spanyol sukses  merengkuh juara. Torehan mengesankan tersebut tidak lepas dari andil Xavi, Iniesta dan Puyol. Khusus untuk Carles Puyol ini merupakan sebuah jerih payah dari kepemimpinannya sebagai kapten tim sehingga Spanyol tampil sebagai jawara. Hal senada juga menjadi ajang unjuk gigi bagi Iniesta dan Xavii Hernadez.

 

Setahun berselang Xavi, Iniesta dan Puyol bersama klub Barcelona sukses menggondol semua piala baik dari gelaran lokal, Eropa, maupun Internasional agen judi bola online. Di tahun ini merupakan musim paling luar biasa bagi Barcelona. Terhitung di tahun 2009, tim Catalan ini sukses memboyong trohy Liga Champions, gelar La Liga Spanyol, ada juga raihan piala Raja Spanyol, beserta piala Super Spanyolnya dan juga piala super Eropa.

 

Tak puas sampai disitu saja Barcelona bersama trio Xavi, Iniesta dan Puyol juga mampu tampil perkasa di gelaran Piala Dunia antar klub mewakili Benua Eropa. Sungguh raihan super gemilang bagi sebuah klub semacam Barcelona. Semua gelar klub disapu bersih dan memenuhi lemari trophy klub besar Spanyol. selain itu musim tersebut juga menjadi masa kejayaan sepak bola ala tiki-taka Spanyol di kancah dunia.

 

Bagaimana tidak generasi emas timnas Spanyol yang tampil menjadi jawara di gelaran piala Eropa tahun 2008 kini juga turun di gelaran Piala Dunia tahun 2010. Semua pasti masih ingat dengan keperkasaan tim matador ini. Prestasi kembali diukir oleh Xavi, Iniesta dan Puyol di gelaran ini yang sukses mengawinkan piala Eropa 2008 dengan Piala Dunia 2010. Prestasi ini membuat publik sepak bola dunia terpana.

 

Publik sepak bola dunia terpana dengan kegemilangan timnas Spanyol dan menjadikan negara ini menjadi kiblat sepak bola dunia. Selain itu para pecinta bola juga sangat fokus pada raihan gelar yang diraih ketiga pemain andalan Spanyol yang terdiri dari Xavi, Iniesta dan Puyol. Tercatat mereka bertigalah yang berhasil meraih delapan gelar bergengsi baik level klub maupun timnas dalam kurun waktu 2 tahun saja.